oleh:
Sapto Waluyo
Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform
Banyak pengamat mencermati kebangkitan Partai Keadilan Sejahtera sebagai bukti kemampuan partai politik (parpol) Islam untuk mengemas isu-isu publik, semisal antikorupsi dan pelayanan sosial.
Padahal, selama ini parpol Islam dan partai berbasis agama pada umumnya, terpenjara isu-isu religius dan ideologis. Kemenangan PKS bersama mitra koalisinya dalam pemilihan kepala daerah terkini di Jawa Barat (PAN) dan di Sumatera Utara (PPP dan PBB) menunjukkan partai Islam bisa menandingi partai nasionalis dan menangkal pragmatisme dalam derajat tertentu.
Analisis pengamat lebih terfokus pada efektivitas mesin politik atau popularitas kandidat.Belum ada yang secara serius menelaah faktor sosial-budaya. Kebangkitan PKS didukung lahirnya generasi baru di era transisi (1998–2008). Generasi ini telah mematahkan ambisi para elite status quo.
Kita bisa menyebutnya generasi AAC (Ayat-ayat Cinta)—meminjam fenomena budaya terkini, sebuah novel karya Habiburrahman El Shirazi yang terjual 450.000 kopi dan filmnya ditonton hampir 4 juta orang. Baca entri selengkapnya »



















Komentar Terakhir